Inilah Makna Filosofi Angka dalam Bahasa Jawa



Rasa keingin-tahuan mengenai penyebutan Angka dalam hitungan Jawa ketika searching secara tidak sengaja ternyata banyak blog maupun website yang mengulas tentang penyebutan beberapa Angka dalam hitungan Jawa ini yang katanya mempunyai makna filosofi yang dalam.

Membahas mengenai pemaknaan Angka, setiap orang pasti memilikki kesukaan pada deretan Angka yang berbeda-beda. Jikalau sama, pastinya mempunyai makna maupun filosofi yang berbeda menurut masing-masing. Begitupun halnya bagi sebagian "Suku Jawa", ada beberapa angka yang dijadikan makna atau filosofi kehidupan dalam penamaannya atau penyebutannya.

Angka yang dimaksud tersebut adalah
  1. 11 ( Sebelas )
  2. 21 ( Dua Puluh Satu )
  3. ( Dua Puluh Lima )
  4. 50 ( Lima Puluh )
  5. 60 ( Enam Puluh )
Yuukk..!! Kita Bahas Satu per-Satu Angka-angka Tersebut......

11 ( Sebelas )
Dalam bahasa Jawa, angka:
- 11 tidak disebut atau dibaca sepuluh siji,
- 12 bukan sepuluh loro,
- 13 bukan sepuluh telu
Dan seterusnya hingga angka 19 yang tidak disebut sebagai sepuluh songo.

Namun, angka 11 disebut sebagai sewelas, 12 disebut sebagai rolas dan seterusnya hingga 19 yang disebut sebagai songolas.

Filosofinya bahwa pada usia 11 tahun hingga 19 tahun adalah saat-saat berseminya rasa welas asih (belas kasih) pada jiwa seseorang, terutama terhadap lawan jenis.
Itulah usia di mana seseorang memasuki masa akil baligh, masa remaja.

21 ( Dua Puluh Satu )
Pada dasarnya sebelum angka / nomer 21, diawali terlebih dahulu oleh angka / nomer 20 dalam bahasa Jawa disebut "Rong Puluh".
Pertanyaannya "Kenapa angka / nomer 21 tidak diucapkan "Rong Puluh Siji" akan tetapi diucapkan "Selikur" ??

Dalam definisi Jawa, Selikur adalah satuan dari Likur yang kepanjangan dari Lingguh Kursi dalam bahasa indonesia berarti "Duduk di Kursi".

Makna filosofinya adalah umur 21 hingga 29 pada umumnya Manusia mendapatkan "Tempat Duduknya" baik berupa Pekerjaannya, Profesi yang akan ditekuni dalam kehidupannya. Apakah itu sebagai Pegawai, Pedagang, atau lainnya.

Dari situlah penyebutan deretan angka dengan nominal 21 adalah :
22 = Ro Likur
23 = Telu Likur
24 = Pat Likur
25 = Selawe
26 = Enem Likur
27 = Pitu Likur
28 = Wolu Likur
29 = Songo / Sanga Likur

Dalam deretan angka di atas, tertulis jelas angka 25 / Selawe yang sengaja Saya tebalkan penulisannya, tidak memakai satuan Likur. Kenapa ???

Inilah jawabannya..!!

25 ( Dua Puluh Lima )
Angka ini memang berada di tengah deretan angka-angka Likur, pertanyaannya ""Kenapa angka / nomer 25 tidak diucapkan "Limo/Limang Likur", tetapi diucapkan "Selawe" ??

Dalam filosofi bahasa Jawa, ucapan Selawe untuk angka 25 memiliki makna tersendiri, Selawe adalah kepanjangan dari "SEneng-senenge LAnang lan WEdok".

Kalau diartikan kurang lebih "waktu senang-senangnya Laki-laki dan Perempuan" ( koreksi ).

Maksudnya adalah puncak asmaranya laki-laki dan perempuan, yang ditandai oleh pernikahan. Karena pada usia tersebut atau 25 pada umumnya orang menikah (dadi manten).
Namun, tidak semua orang menikah pada usia tersebut, rata-rata diantara usia 21-29, Pada saat kedudukan sudah diperoleh, pada saat itulah seseorang siap untuk menikah.

50 ( Lima Puluh)
Nah, angka ini tidak diucapkan "Limang Puluh", akan tetapi diucapkan dalam kata "Seket". Kenapa ??
Katanya, Seket merupakan kepanjangan dari "Seneng Kethonan" kurang lebih artinya "Suka Pakai Kopiah (penutup kepala)". Dalam hal ini maka berkaitan erat dengan ibadah.

Hal ini menandakan bahwa usia seseorang semakin lanjut, Selain tutup kepala merupakan alat untuk menutup rambut yang mulai botak atau memutih, tapi tutup kepala bisa juga berupa kopiah yang melambangkan orang yang sedang beribadah.

Pada usia 50 sudah seharusnya seseorang lebih memperhatikan ibadahnya. Setelah sejak umur Likuran atau bekerja keras mencari kekayaan untuk kehidupan dunia, sekitar 25 tahun melakukan pernikahan dan pada usia 50 tahun lah perbanyak ibadah, untuk bekal memasuki kehidupan akhirat.

Perlu digaris bawahi, tidak harus menunggu umur 50 tahun kita harus rajin ibadah. Tapi sejak usia dini dari mulai anak-anak, remaja kita harus senantiasa rajin beribadah.

Potongan hadits Nabi Muhammad S.A.W yang berbunyi :
Abu Hurairah mengatakan bahwa Nabi saw bersabda, "Tujuh orang yang dilindungi Allah dalam naungan-Nya pada hari tidak ada naungan selain naunganNya. Yaitu, imam (pemimpin) yang adil, Pemuda yang tekun beribadah kepada Tuhannya,....."

60 ( Enam Puluh )
Saya pernah mendengar angka ini juga ada yang mengucapkan "Enem Puluh", tapi angka ini lebih populer dikalangan orang Jawa dengan ucapan "Sewidak".

Dan ternyata pengucapan Sewidak pada angka 60 kepanjangan dari "SEjatine Wis wayahe tinDAK".
Artinya "Sejatinya Sudah waktunya Melangkah" ( perlu koreksinya ).
Makna filosofi dari kepanjangan tersebut bahwa sesungguhnya pada usia inilah (red: 60) seseorang bersiap-siap untuk pergi meninggalkan dunia ini.

Jika usia kita sudah mencapai 60, perbanyaklah bersyukur / ibadah, karena usia selebihnya adalah bonus dari Yang Maha Kuasa.

Wallohu a'lam bishshowaab..

Perlu diketahui, ulasan yang Saya tulis ini bukanlah sebuah patokan dalam kehidupan. Tapi sebagai pelajaran sekaligus pengingat bagi Saya sendiri dan umumnya bagi pengunjung / pembaca Blog ini agar tetap selalu berusaha untuk Istiqomah dalam beribadah.

Demikianlah ulasan mengenai keunikan dan filosofi dalam penamaan atau penyebutan angka-angka dalam bahasa Jawa.

Ternyata dibalik penamaannya, ada sebuah nasehat yang tersirat. Sebagai orang Jawa sudah semestinya tidak hanya bisa mengucapkan kata-kata atau kalimat Bahasa Jawa, tapi juga senantiasa Memaknai Filosofi Penyebutan Angka Dalam Bahasa Jawa tersebut, dan memahami maknanya agar kita lebih mengerti makna-makna yang tersirat di dalamnya.

Pranala luar:
- www.wajibbaca.com

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Inilah Makna Filosofi Angka dalam Bahasa Jawa"

Post a Comment

Isi Komentar sepenuhnya adalah Tanggung Jawab Komentator yang dinaungi oleh payung hukum dalam UU ITE.
Berkomentarlah yang baik dan sopan serta tidak keluar dari topik yang dibicarakan!